Pengelolaan SDA Berbasis Publikasi Massal 1.November.2008
Posted by Mahifal, SH., MH. in 2008, Papers.trackback
PENGELOLAAN SDA BERBASIS PUBLIKASI MASSAL
Oleh :
MAHIFAL, SH., MH.
Staf Pengajar Universitas Pakuan Bogor
dan
YUDI WAHYUDIN, S.Pi, M.Si.
Direktur Institute for Applied Sustainable Development (IASD)
Selama ini pemanfaatan sumber daya (budidaya, penangkapan ikan, penebangan, penambangan, pariwisata, dsb) yang dilakukan oleh sebagian besar stakeholders lebih ditekankan pada kepentingan jangka pendek dengan besaran manfaat yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan nilai jangka panjang dari keanekaragaman hayati sumber daya tersebut. Pemerintah (lokal, daerah maupun pusat) dalam hal ini telah mengupayakan berbagai upaya pencegahan, dan penanggulangan dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam (SDA) dan lingkungan. Upaya pengelolaan yang dilakukan diantaranya melalui kebijakan pengelolaan (management plan, zoning, action plan), peraturan perundangan (UU, PP, Kepmen, SKB Men, SK Gubernur/Bupati/Walikota, Perda, dsb) maupun melalui upaya monitoring, controlling dan surveillance. Namun demikian, pemanfaatan sumber daya yang dilakukan para pengguna tetap saja kurang atau bahkan tidak mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian. Hal ini menunjukkan masih kurangnya kesadaran para pengguna/pemanfaat (stakeholders) sumber daya untuk melaksanakan prinsip-prinsip pemanfaatan berkelanjutan.
Kurangnya kesadaran stakeholders ini sebenarnya dapat disebabkan oleh ketidaktahuan atau kekurangpahaman mereka terhadap arti penting SDA dan lingkungan sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem dunia. Manusia biar bagaimanapun tidak dapat hidup bilamana sumberdaya yang ada di sekitarnya hancur. Selain itu, kurangnya proses public sounding, sosialisasi kebijakan dan peraturan juga menjadi pangkal ketidakmengertian tersebut.
Kejadian yang menimpa beberapa daerah di Indonesia – baik musibah banjir, tanah longsor, dan sebagainya – selain faktor alam juga merupakan kontribusi perilaku manusia dalam memandang dan memanfaatkan sumber daya secara tidak terkendali demi mengejar keuntungan jangka pendek (short run benefit). Contoh klasik kebiasaan manusia diantaranya penebangan hutan secara liar, membuang sampah organik dan non organik sembarangan serta pemanfaatan ruang yang tidak teratur secara langsung dan tidak langsung membawa dampak terhadap kita sendiri. Oleh karena itu, perlu kiranya dipikirkan bagaimana caranya manusia dapat tersadarkan secara sukarela (voluntary awareness) untuk secara sinergis membangun perilaku yang ramah lingkungan.
Informasi Massal dan Ketaatan Sukarela
Publikasi massal (public sounding) yang secara terus menerus dapat terlihat dan terdengar sebenarnya menjadi alternatif media penyadaran yang bisa saja efektif dan efisien dilakukan, sehingga lambat laun diharapkan dari dalam diri individu stakeholders tersebut akan tumbuh benih-benih ketaatan sukarela (voluntary compliance). Selanjutnya ketaatan sukarela tersebut diharapkan dapat melembaga dan kemudian menjadi suatu kode etik (code of conduct) dalam melakukan pemanfaatan SDA dan lingkungan. Dalam hal ini, sifat dari ketaatan sukarela untuk melakukan pemanfaatan berkelanjutan lebih merupakan suatu upaya pencegahan.
Kendala utama dalam melaksanakan upaya penyadaran melalui public sounding ini adalah diperlukannya waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Namun, jika mengingat dampak jangka panjangnya sangat signifikan, maka besaran dana dan waktu yang dibutuhkan menjadi tidak berarti. Terlebih bilamana public sounding ini berhasil mengena pada sasaran kalangan di bawah usia muda, sehingga mereka dapat menjadi cikal bakal pemimpin yang secara sukarela memahami bahwa SDA dan lingkungan merupakan sumber kehidupan yang sengaja diciptakan Tuhan untuk keberlangsungan hidup manusia.
Public sounding yang dimaksud dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti media pendidikan (formal dan informal), media massa (cetak maupun elektronik), pembuatan film lingkungan yang disesuaikan dengan karakteristik sumberdaya, sosial dan budaya masyarakat Indonesia, poster-poster, spanduk, atau papan-papan layanan masyarakat. Potensi, isu dan permasalahan SDA dan lingkungan saat ini seharusnya telah menjadi trend pendekatan pendidikan lingkungan. Sehingga generasi muda yang dididik pada media pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar, lanjutan sampai pendidikan tinggi akan memahami secara detail tentang arti penting dan nilai strategis sumberdaya alam dan lingkungan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perlu kiranya dipikirkan, dirancang, dibuat dan disosialisasikan dengan matang mengenai kurikulum yang paling tepat digunakan agar dapat diketahui, dimengerti dan dipahami oleh setiap kalangan usia pada masing-masing level pendidikannya. Selain melalui media pendidikan formal, media pendidikan informal juga diharapkan dapat berperan serta dalam public sounding tentang potensi, isu dan permasalahan SDA dan lingkungan. Pendidikan informal dimaksud diantaranya dapat melalui pendekatan keagamaan (pengajian misalnya), ekstrakulikuler (pencinta alam misalnya), dan sebagainya.
Media massa (cetak dan elektronik), film lingkungan, poster, spanduk, dan papan layanan masyarakat dewasa ini telah menjadi sarana penyebaran yang dinilai cukup efektif dan efisien digunakan. Media massa (terutama elektronik), selain karena kemampuannya menembus ruang dan waktu, juga mampu dikreasikan sesuai dengan kondisi alam yang ingin ditampilkan. Media massa cetak juga menjadi salah satu alternatif penyadaran yang cukup efektif, dimana dewasa ini semakin banyak bermunculan media massa dengan ragam dan karakteristiknya masing-masing menampilkan berbagai macam berita yang berbasis SDA dan lingkungan. Demikian halnya dengan media poster, spanduk dan layanan masyarakat lainnya juga menjadi alternatif media yang memungkinkan untuk dilakukan public sounding. Namun demikian, pelaksanaan public sounding tersebut seyogyanya dirancang sedemikian rupa sehingga kegiatan tersebut tidak menimbulkan kesan dan pesan negatif.
Sebagai wacana publik untuk menghindari dampak negatif yang dikhawatirkan, maka dalam perencanaan atau pelaksanaan public sounding ini perlu memperhatikan beberapa hal yang terindikasi mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan public sounding.
Pertama, pesan-pesan yang akan disampaikan dalam public sounding seyogyanya dirancang sedemikian rupa agar tidak menimbulkan pertentangan/konflik dengan norma-norma agama dan nilai budaya lokal/kepercayaan masyarakat setempat – terutama komunitas yang telah mempunyai tradisi dalam menjaga kelestarian SDA dan lingkungan. Misalnya saja, norma agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, tradisi masyarakat lokal Suku Baduy, Kubu, Bajo, Dani, Saksak, dan sebagainya, tentunya dalam konteks pengelolaan SDA dan lingkungan.
Kedua, pesan-pesan yang akan disampaikan seyogyanya mengandung nilai rasional. Artinya kode etik yang dirancang dapat diterima/diwajarkan oleh setiap orang bahwa jika melanggar kode etik tersebut akan berdampak negatif terhadap kelestarian SDA dan lingkungan.
Ketiga, perlu ditelusurui adanya informasi mengenai jenis-jenis aktivitas yang dapat mencegah dan melindungi kelestarian SDA. Misalnya saja teridentifikasi bahwa aktivitas penangkapan ikan dengan bahan peledak dan racun merupakan metode penangkapan ikan yang berdampak sangat negatif – bukan saja ikan (besar atau kecil atau masih juveniles) yang terkena dampak, tapi juga dapat merusak secara langsung ekosistem sumber daya serta biota perairan lainnya. Selain informasi aktivitas, informasi mengenai perilaku yang menjadi standar (nasional/internasional) yang dapat mencegah dan melindungi kelestarian SDA juga perlu diidentifikasi sebagai bahan pesan yang akan disampaikan. Yang dimaksud dengan perilaku standar misalnya upaya pengelolaan sumber daya perikanan, dimana bila nelayan berhasil menangkap ikan yang masih merupakan juveniles, maka sudah menjadi kewajiban nelayan untuk melepaskannya kembali. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian ikan-ikan yang ada. Contoh lain misalnya adalah pengelolaan hutan produksi yang dilakukan dengan metode tebang pilih, sehingga optimalisasi pemanfaatan hutan secara berkelanjutan dapat tercapai.
Dan Keempat, poster-poster, spanduk atau papan-papan layanan masyarakat yang telah dibuat berdasarkan jenis dan tema pesan yang disampaikan seyogyanya ditempatkan secara manis dengan tidak mengurangi nilai estetika lingkungan sekitarnya. Adapun khusus untuk pembuatan film lingkungan, dapat saja mengambil pelajaran dari film-film lingkungan buatan negara asing yang saat ini seringkali ditayangkan di beberapa media televisi.
Berikut ini adalah beberapa contoh pesan-pesan yang memungkinkan untuk dapat disampaikan dalam public sounding melalui poster, spanduk atau papan layanan masyarakat:
(i)
poster berisi gambar-gambar potensi sumberdaya yang disertai dengan tulisan “Lindungilah Mereka dengan Tidak Membuang Sampah di Sekitarnya”;
(ii)
spanduk berisi himbauan, misalnya “Biarkanlah Kami Hidup di Alun-Alun Suryakancana Gunung Gede ini”;
(iii)
papan layanan masyarakat berisi gambar aliran sungai yang terbendung oleh sampah dengan tulisan “Mengapa Anda Beri Kami Sampah ini, hingga Kami Harus Keluar dari Daerah Alir Kami”;
(iv)
poster berisi keindahan terumbu karang Indonesia dengan tulisan “Saat Menyelam, Tolong Hindarkan Kaki, Tangan, dan Alat Selam Anda Agar Tidak Mengenai Kami”;
(v)
spanduk atau papan layanan masyarakat dengan tulisan “Biarkanlah Kami Memberikan Kenyamanan Kepada Anda, Jangan Biarkan Sampah Berada di Sekeliling Kami”, dan sebagainya.
Contoh pesan-pesan di atas hanyalah bersifat wacana, sehingga untuk lebih memberikan nilai yang mendalam terhadap yang membaca perlu dikreasikan seapik mungkin dan penuh makna. Mudah-mudahan dengan langkah yang dimulai dari diri sendiri dapat mendatangkan hasil yang jauh lebih signifikan dalam upaya pengelolaan SDA dan lingkungan. Terakhir penulis mengajak mari kita sama-sama menjaga kelestarian sumber daya kita demi mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan dan kelestarian kita bersama (Lets Save the Nature for Our Life).
ya memang benar Allah selalu memantau geak gerik kita, maha adil Allah. seburuk apapun kita lakukan Allah selalu memberikan kita kesempatan untuk melakukan dan memberikan kesemptan untuk memperbaiki kesalahan. dasar kita manusia tidak pernah merasa cukup dengan pemberian yang sejedarnya. hutan dan air menjadi sasaran utama untuk memenuhi kebutuhannya.!
kemiskinan, banjir, global warming, bencana adalah keinginan dari manusia itu sendri, Sepakat pak…?
terima kasih makalah semoga ini jadi silaturrahmi kita untuk bisa merubah keinginan manusia yang diatas….!